Helm proyek, gambar konstruksi, dan binder di samping model jembatan.
← ArtikelInformasi Hukum Taiwan

Klaim proyek pemerintah Taiwan berubah sebelum arbitrase: akibatnya bagi putusan

5 menit baca

Adegan fiksi

Putusan arbitrase senilai NT$44.417.150 dibatalkan dalam sengketa kontraktor rumah sakit Taiwan. Kontraktor memperoleh rekomendasi mediasi mengenai tambahan waktu, kemudian menuntut uang dalam arbitrase tanpa rekomendasi atas klaim yang telah berubah itu. Penjelasan resmi Mahkamah Agung mengenai putusan 106年度台上字第723號 menempatkan kesenjangan tersebut sebagai persoalan menentukan.

Pada 12 Juli 2017, Mahkamah Agung menolak upaya kasasi kontraktor. Pembatalannya berkekuatan hukum tetap. Untuk sengketa uang tersebut, tidak terdapat perjanjian arbitrase yang disepakati maupun persetujuan arbitrase yang dianggap ada berdasarkan undang-undang.

Dari ganti uang ke waktu, lalu kembali ke uang

Permintaan kontraktor berubah selama proses mediasi:

TahapPermintaan dan catatan proses
Permohonan awalKontraktor meminta kompensasi berupa uang.
Perubahan permohonanPermintaan diubah menjadi perpanjangan waktu.
Rekomendasi badan pengadaanRekomendasi membahas perpanjangan waktu; instansi publik tidak menyetujuinya.
Klaim berikutnyaKontraktor kembali meminta kompensasi uang tanpa rekomendasi atau usulan atas klaim itu sebelum arbitrase.

Rekomendasi harus membahas sengketa yang bersangkutan. Menurut penjelasan Mahkamah Agung, instansi harus diberi kesempatan menerima atau menolak rekomendasi mengenai tuntutan yang akan diajukan ke arbitrase, sehingga surat keterangan bahwa mediasi gagal saja tidak menutup kesenjangan antara rekomendasi perpanjangan waktu dan tuntutan uang. Mahkamah Agung memperbaiki alasan pengadilan sebelumnya tentang versi hukum yang berlaku, tetapi mempertahankan pembatalan putusan arbitrase.

Persetujuan arbitrase berdasarkan undang-undang memiliki syarat

Pasal 85-1 Undang-Undang Pengadaan Pemerintah memungkinkan sengketa pelaksanaan kontrak dibawa ke Complaint Review Board for Government Procurement untuk dimediasi. Instansi publik tidak dapat menolak permohonan mediasi pemasok.

Untuk pekerjaan konstruksi atau jasa teknis, badan tersebut wajib memberikan rekomendasi atau usulan mediasi. Jika mediasi gagal karena instansi tidak menyetujui rekomendasi atau usulan itu, instansi tidak boleh menolak arbitrase yang diajukan pemasok atas sengketa tersebut. Sebab kegagalan dan isi rekomendasi sama-sama menentukan.

Dalam perkara rumah sakit, pengadilan tidak menemukan klausul arbitrase yang disepakati maupun fakta yang memenuhi persetujuan menurut undang-undang. Dasar pembatalannya adalah tidak adanya perjanjian arbitrase sebagaimana dimaksud Pasal 40 ayat (1) angka 2 Undang-Undang Arbitrase.

Klasifikasi kontrak perlu ditetapkan lebih dahulu. Jalur arbitrase khusus dalam Pasal 85-1 berlaku untuk pekerjaan konstruksi atau jasa teknis; tidak setiap pembelian peralatan atau kontrak sektor publik lain otomatis masuk ke jalur ini. Perjanjian arbitrase tersendiri dapat berlaku secara independen.

Relevansinya bagi pemasok AS pada proyek energi

Laporan energi US International Trade Administration bertanggal 30 September 2026 memperkirakan pengadaan tenaga listrik dan jaringan di Taiwan pada akhir 2026 dan 2027, termasuk peluang bagi pemasok AS. Itu adalah peluang yang direncanakan. Laporan tersebut tidak menjamin tender tertentu telah dibuka, perusahaan memenuhi syarat, atau kontraknya nanti tergolong konstruksi maupun jasa teknis.

Klausul sengketa dan kategori pengadaan karena itu perlu diperiksa sejak kajian kontrak awal. Bagi kontraktor yang menghadapi keterlambatan, persoalan muncul ketika permintaan penyesuaian jadwal berkembang menjadi tuntutan biaya tambahan. Tim komersial mungkin melihat satu masalah proyek, sedangkan dokumen prosedur mencatat dua permintaan berbeda.

Apakah badan pengadaan sudah membahas tuntutan pembayaran yang akan diajukan ke arbitrase? Jawabannya harus dicari dalam permohonan dan perubahannya, rekomendasi atau usulan, tanggapan instansi, serta rancangan tuntutan arbitrase. Pernyataan umum bahwa “mediasi gagal” tidak menggantikan perbandingan tersebut.

Perbandingan dokumen adalah cara praktis menilai ruang lingkup sengketa, bukan syarat kelayakan baru yang ditambahkan ke undang-undang. Perubahan angka atau penajaman argumentasi hukum belum tentu menghasilkan sengketa lain. Nomor proyek yang sama juga tidak menjawab persoalan; fakta dan permintaan dalam berkas tetap harus dibaca.

Jika catatan menunjukkan kesenjangan, penasihat hukum dapat menilai dasar arbitrase yang disepakati atau kebutuhan mediasi lanjutan untuk klaim yang direncanakan. Untuk pertanyaan mengenai sengketa kontrak Taiwan, halaman kontak berbahasa Inggris dapat digunakan dengan menyertakan kategori proyek, permintaan yang diajukan, dan tanggal prosedural terdekat. Berkas yang perlu disusun adalah urutan permohonan, perubahan, rekomendasi, dan tanggapan hingga mediasi dinyatakan gagal.

Sumber resmi dan teks hukum yang berlaku diperiksa pada 25 Oktober 2026. Uraian perkara bersandar pada penjelasan resmi Mahkamah Agung. Artikel ini membahas satu jalur menuju arbitrase dan tidak menentukan forum atau tenggat untuk kontrak tertentu.

Sumber resmi

Pertanyaan umum

Apakah mediasi yang gagal otomatis membuka arbitrase melawan instansi publik Taiwan?
Tidak. Untuk pekerjaan konstruksi dan jasa teknis, jalur menurut undang-undang mensyaratkan kegagalan mediasi karena instansi tidak menyetujui rekomendasi atau usulan badan pengadaan. Sengketa konkret yang dibawa ke arbitrase harus dibandingkan dengan catatan mediasi. Perjanjian arbitrase tersendiri dapat menjadi dasar lain.
Apakah Mahkamah Agung menetapkan bahwa setiap perubahan klaim menggugurkan arbitrase?
Tidak. Perkara ini menyangkut kembalinya klaim ke permintaan uang setelah rekomendasi mengenai perpanjangan waktu. Putusan tersebut tidak menyatakan setiap perubahan jumlah atau argumentasi hukum menciptakan sengketa baru. Fakta, permintaan, dan dokumen prosedurnya perlu dibandingkan.

Artikel ini memberikan informasi umum dan bukan nasihat hukum untuk kasus tertentu.