Bagaimana Tanggung Jawab Kecelakaan akibat Mendahului di Taiwan Dinilai?
← Back to columnsLegal Information

Bagaimana Tanggung Jawab Kecelakaan akibat Mendahului di Taiwan Dinilai?

Attorney Wei Tseng5 menit membaca

Ketika kendaraan di depan berjalan lambat, mendahului (超車) dapat terlihat seperti pilihan yang biasa, tetapi tindakan mengemudi itu sesungguhnya mengandung risiko yang cukup besar. Sebelum mulai mendahului, Anda harus menilai bersama-sama ruas jalan yang dilalui, keadaan lalu lintas dari kedua arah, gerakan kendaraan yang ada di depan, serta ada atau tidaknya ruang untuk kembali ke jalur semula setelah melewatinya dengan aman.

Syarat mendahului yang ditetapkan Pasal 101 Peraturan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya (道路交通安全規則)

Pasal 101 Peraturan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Taiwan sekaligus mengatur keadaan-keadaan yang melarang tindakan mendahului dan urutan yang harus diikuti apabila mendahului pada jalur yang sama diperbolehkan.

Pasal 101 melarang tindakan mendahului pada ruas jalan yang dilengkapi rambu yang menandai tikungan, tanjakan atau turunan curam, jembatan sempit, terowongan, dan persimpangan, serta pada perlintasan sebidang kereta api dan lokasi pekerjaan jalan.

Selain itu, Anda juga tidak boleh mendahului di tempat atau ruas jalan yang memiliki rambu sekolah maupun rambu rumah sakit, di tempat yang memiliki rambu atau marka larangan mendahului lainnya, ketika ada kendaraan dari arah berlawanan yang mendekat, serta ketika di depan terdapat dua kendaraan atau lebih yang berjalan beriringan.

Untuk melewati kendaraan di depan pada jalur yang sama, pengemudi kendaraan di belakang harus lebih dahulu membunyikan klakson dengan dua bunyi pendek atau mengedipkan lampu utama satu kali. Klakson maupun lampu utama tidak boleh digunakan berulang-ulang untuk memaksa kendaraan di depan memberi jalan.

Kendaraan di belakang baru boleh mendahului setelah kendaraan di depan mengurangi kecepatan dan menepi, atau setelah menyatakan kesediaannya memberi jalan melalui isyarat tangan maupun lampu penunjuk arah kanan.

Selanjutnya kendaraan yang mendahului harus menyalakan lampu penunjuk arah kiri, melewatinya dari sisi kiri dengan menjaga jarak sekurang-kurangnya 0,5 meter dari kendaraan di depan, lalu setelah memperoleh jarak yang aman menyalakan lampu penunjuk arah kanan dan kembali dengan selamat ke jalur semula.

Urutan pemberian isyarat dan pemberian jalan pada jalur yang sama ini tidak berarti bahwa mendahului diperbolehkan di tempat atau dalam keadaan yang dilarang. Sebelum mulai mendahului, seluruh syarat dalam Pasal 101 tetap harus dinilai bersama-sama.

Contoh kasus kecelakaan anonim yang ditangani kantor ini

Dalam sebuah perkara anonim yang ditangani kantor ini, pengendara sepeda motor A sedang melaju di jalan pegunungan sambil membonceng penumpang B. Di depannya terdapat dua mobil penumpang; mobil nomor 1 yang berada paling depan bergerak lambat sehingga mobil nomor 2 dan sepeda motor itu pun berjalan dengan kecepatan rendah.

A berusaha melewati kedua mobil itu sekaligus sehingga masuk ke jalur berlawanan dan menambah kecepatan. Mobil nomor 2 pun bersiap mendahului mobil nomor 1: kurang dari satu detik setelah menyalakan lampu penunjuk arah, mobil itu masuk ke jalur berlawanan. Sepeda motor tidak memiliki cukup kelonggaran untuk mengerem sehingga bertabrakan dengan mobil nomor 2.

B mengalami luka berat pada kepala dan meninggal dunia di tempat kejadian, sedangkan A kehilangan kesadaran dan dibawa ke rumah sakit.

Keluarga A dan B pada mulanya berpendapat bahwa perpindahan jalur mobil nomor 2 secara mendadak merupakan penyebab utama tabrakan itu. Perkara ini berlanjut menjadi gugatan, dan dalam prosesnya dilakukan beberapa kali penilaian ahli (鑑定) atas kecelakaan tersebut.

Menurut hasil penilaian ahli tersebut, A dinilai memikul tanggung jawab utama atas tabrakan ini. Kesimpulan itu terbatas pada fakta-fakta dalam perkara ini. Penilaian ahli mempertimbangkan bersama-sama upaya A melewati dua kendaraan di depan yang berjalan beriringan, tindakannya masuk ke jalur berlawanan, kecepatan yang membuat kelonggaran untuk mengerem menjadi tidak memadai, tidak dilakukannya isyarat klakson maupun lampu utama sebagaimana ditentukan, gerakan perpindahan jalur mobil nomor 2, susunan jalan dan jalur, serta bukti lain yang tersedia.

Munculnya hasil penilaian ahli menurut perkara masing-masing seperti ini tidak berarti bahwa satu kali kealpaan memberikan isyarat yang ditentukan akan selalu menentukan tanggung jawab. Kelalaian (過失) dalam kecelakaan akibat mendahului tetap bergantung pada lokasi kecelakaan, susunan jalur, kecepatan, gerakan kendaraan, isyarat, jarak waktu, jarak pandang, serta bukti lain.

Hal-hal yang perlu diperiksa saat menilai tanggung jawab kecelakaan

Sebelum mendahului, Anda harus lebih dahulu memastikan apakah tempat atau keadaan lalu lintas tersebut termasuk dalam larangan mendahului. Apabila prosedur jalur yang sama berlaku, berikan isyarat klakson atau lampu utama sebagaimana ditentukan tanpa memaksa kendaraan di depan memberi jalan, tunggu sampai ada isyarat memberi jalan yang jelas, lalu selesaikan tindakan mendahului dengan jarak antara yang memadai dan jarak yang aman untuk kembali ke jalur semula.

Menaati Pasal 101 memang penting, tetapi hal itu sendiri tidak menjamin terhindarnya kecelakaan maupun hasil penilaian ahli atau gugatan di kemudian hari. Pengemudi tetap harus menyediakan cadangan keselamatan yang lebih besar dan menyesuaikan tindakannya dengan keadaan jalan di depannya.

Sebagai bahan tambahan, Anda dapat merujuk pada ilustrasi peraturan dan langkah-langkah mendahului. Karena tulisan itu merupakan bahan sekunder, mohon periksa pula ketentuan resmi yang berlaku saat ini ketika memastikan syarat-syarat hukumnya.


Baca juga:

Tulisan ini merupakan informasi hukum umum mengenai peraturan mendahului di Taiwan dan penilaian tanggung jawab kecelakaan, bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu maupun jaminan atas suatu hasil. Tanggung jawab yang sesungguhnya dapat berbeda menurut lokasi kecelakaan, gerakan kendaraan, kecepatan, isyarat, bukti, hasil penilaian ahli, serta peraturan perundang-undangan yang terbaru, sehingga perkara yang konkret harus ditelaah secara tersendiri berdasarkan bahan-bahan yang terkait.