Ganti Rugi Cedera di Pusat Kebugaran Taiwan: Kasus Tingkat Pertama, Batas Waktu, Bukti, dan Pos Ganti Rugi
← Back to columnsLegal Information

Ganti Rugi Cedera di Pusat Kebugaran Taiwan: Kasus Tingkat Pertama, Batas Waktu, Bukti, dan Pos Ganti Rugi

Attorney Wei Tseng10 menit membaca

Artikel ini bertolak dari sebuah perkara ketika seorang mahasiswa asal Korea mengalami cedera saat menerima bimbingan pelatih (教練) di sebuah pusat kebugaran (健身房) di Taiwan, dan menjelaskan prosedur hukum yang dapat dipertimbangkan setelah cedera di pusat kebugaran, batas waktu pengajuan tuntutan, cara pengamanan bukti (保全證據), serta pos-pos ganti rugi (損害賠償).

Kecelakaan itu terjadi di sebuah pusat kebugaran di Taichung (臺中), saat mahasiswa tersebut menjalani latihan deadlift (硬舉) di bawah bimbingan pelatih. Setelah cedera terjadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar kenyataan bahwa peristiwa itu berlangsung di dalam pusat kebugaran. Harus ditelaah pula pengalaman berolahraga dan kondisi kesehatan pengguna, jenis latihan serta beban yang digunakan, penjelasan dan bimbingan yang diberikan pelatih, gerakan dan penanganan pada saat kejadian, hubungan kausal (因果關係) antara latihan dan cedera, serta data yang mendukung kerugian yang didalilkan.

Saya bertindak sebagai kuasa hukum (訴訟代理人) penggugat, yaitu mahasiswa asal Korea tersebut, dalam perkara ini. Pengadilan Distrik Taichung, Taiwan (臺灣臺中地方法院) pada 24 Januari 2022 menjatuhkan putusan tingkat pertama dalam perkara tahun 109 消字 Nomor 7 (109年度消字第7號), yang memerintahkan tergugat membayar 1.579.589 Dolar Taiwan Baru (新臺幣, TWD) beserta bunga sebagaimana tercantum dalam putusan tersebut.

Setelah itu, pemberitaan media menyebutkan bahwa para pihak mencapai perdamaian (和解) pada tingkat banding. Karena putusan resmi tingkat pertama saja tidak memungkinkan pemastian hasil pemeriksaan tingkat banding maupun jumlah uang perdamaiannya, hal tersebut tidak boleh dianggap sebagai hasil putusan tingkat pertama yang berkekuatan hukum tetap.

Berikut adalah judul pemberitaan media, unggahan daring, dan ulasan hukum mengenai perkara ini, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Judul-judul di bawah ini hanya dimaksudkan untuk memperkenalkan isi pemberitaan atau unggahan pada masing-masing tautan, dan tidak berarti artikel ini menetapkan sendiri kebenaran fakta di dalamnya.

Mahasiswa laki-laki mengalami robekan diskus intervertebralis (椎間盤破裂) setelah deadlift 90 kg, menuntut ganti rugi kepada pusat kebugaran

Mahasiswa laki-laki asal Korea mengalami robekan diskus intervertebralis saat deadlift 90 kg; ganti rugi TWD 1,57 juta pada tingkat pertama dan diberitakan berdamai pada tingkat banding

Mahasiswa laki-laki asal Korea cedera saat deadlift 90 kg; ganti rugi TWD 1,57 juta pada tingkat pertama dan diberitakan berdamai pada tingkat banding

Mahasiswa laki-laki mengalami robekan diskus intervertebralis setelah deadlift 90 kg, menuntut ganti rugi kepada pusat kebugaran

Unggahan PTT: Mahasiswa laki-laki asal Korea mengalami robekan diskus intervertebralis saat deadlift 90 kg; pada tingkat pertama pihak pusat kebugaran diperintahkan membayar ganti rugi TWD 1,57 juta

Blog: Cedera akibat deadlift 90 kg pada mahasiswa asal Korea yang berbobot 70 kg dan ganti rugi lebih dari TWD 1 juta — apakah pihak pusat kebugaran bersalah? Bagaimana sikap orang yang berlatih?

Ulasan hukum: Mahasiswa laki-laki mengalami robekan diskus intervertebralis saat deadlift; pada tingkat pertama pusat kebugaran ternama diperintahkan membayar ganti rugi TWD 1,57 juta

Membaca putusan: Perkara robekan diskus intervertebralis akut setelah seorang pemula di pusat kebugaran diinstruksikan melakukan deadlift 90 kg

Benarkah seorang mahasiswa laki-laki asal Korea mengalami robekan diskus intervertebralis saat melakukan deadlift 90 kg dalam sesi latihan personal bersama pelatih?

Perkara ini bermakna secara praktis karena menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak serta-merta ditetapkan hanya karena cedera terjadi di pusat kebugaran. Isi kewajiban keamanan (安全義務) yang dipikul penyedia jasa, tindakan bimbingan yang konkret dan pelanggaran kewajiban kehati-hatian (注意義務), hubungan kausal antara perbuatan dan cedera, serta luas kerugian, semuanya dinilai berdasarkan data pada masing-masing perkara. Syarat dan batas waktu prosedur pidana dan prosedur perdata pun berbeda satu sama lain, sehingga catatan perlu dipilah dan dirapikan sejak segera setelah kejadian.

Uraian di bawah ini merupakan informasi umum mengenai sengketa cedera di pusat kebugaran di Taiwan, dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu. Hak yang sebenarnya dan cara penanganannya dapat berbeda menurut hubungan kontraktual, kronologi kejadian, penyebab dan derajat cedera, perbuatan para pihak, syarat-syarat polis asuransi, bukti yang berhasil diamankan, serta hukum yang berlaku.

1. Prosedur hukum apa saja yang dapat dipertimbangkan atas cedera di pusat kebugaran di Taiwan?

Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Taiwan (消費者保護法) menentukan bahwa pelaku usaha (企業經營者), ketika menyediakan jasa, wajib memastikan jasa tersebut memenuhi tingkat keamanan yang secara wajar dapat diharapkan menurut standar profesional atau teknis yang berlaku pada saat jasa itu diberikan.

Meski demikian, hal itu tidak berarti tanggung jawab pelaku usaha atau pelatih diakui setiap kali terjadi cedera di pusat kebugaran. Harus dinilai perkara demi perkara: kewajiban kehati-hatian apa yang secara konkret ada, apakah kewajiban itu dilanggar, apakah terdapat hubungan kausal antara pelanggaran dan cedera, apakah kerugian benar-benar timbul, pembelaan apa yang dimiliki pihak lawan, serta apakah tersedia bukti yang mendukung setiap dalil dan pembelaan tersebut.

Apabila syarat menurut undang-undang bagi tindak pidana melukai karena kelalaian (過失傷害) terpenuhi, pengaduan pidana (告訴) dapat dipertimbangkan. Gugatan ganti rugi perdata juga dapat dipertimbangkan, tetapi dasar mana yang berlaku di antara tanggung jawab kontraktual, tanggung jawab perbuatan melawan hukum (侵權行為), dan tanggung jawab menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen, beserta luas tanggung jawabnya, berbeda-beda menurut fakta yang konkret. Kenyataan bahwa beberapa prosedur dapat dipertimbangkan atas satu kecelakaan tidak berarti seluruh prosedur harus ditempuh, dan tidak pula berarti salah satu pihak pasti akan dimenangkan.

2. Batas waktu apa yang berlaku bagi pengaduan pidana dan tuntutan ganti rugi perdata?

Menurut Pasal 287 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Taiwan (刑法), tindak pidana melukai karena kelalaian dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana merupakan delik aduan (告訴乃論之罪), yaitu tindak pidana yang hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan. Menurut Pasal 237 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Taiwan (刑事訴訟法), pihak yang berhak mengadu pada asasnya harus mengajukan pengaduan dalam waktu 6 bulan sejak hari ia mengetahui pelakunya.

Hak menuntut ganti rugi karena perbuatan melawan hukum menurut Pasal 197 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Taiwan (民法) pada asasnya hapus karena daluwarsa (消滅時效) apabila tidak digunakan selama 2 tahun sejak pihak yang dirugikan mengetahui kerugian sekaligus pihak yang wajib memberi ganti rugi, dan hapus pula apabila telah lewat 10 tahun sejak perbuatan melawan hukum itu terjadi.

Namun, apakah dasar tuntutan lain seperti tanggung jawab kontraktual yang dipersoalkan, atau apakah berlaku ketentuan lain mengenai titik awal penghitungan, berjalannya, dan terputusnya jangka waktu, dapat berbeda menurut fakta perkara. Batas waktu sebaiknya tidak disimpulkan begitu saja hanya dari tanggal kejadian atau tanggal diagnosis; lebih aman memastikan sedini mungkin, satu per satu, dasar tuntutan yang mungkin ada beserta tanggal patokannya.

3. Bukti apa saja yang harus diamankan segera setelah kejadian, dan bagaimana caranya?

Untuk menjelaskan tanggung jawab, hubungan kausal, dan kerugian, sebaiknya dikumpulkan bersama-sama bukan hanya rekaman CCTV (監視器影像) pada saat kejadian, melainkan juga rekam medis (病歷) dan surat keterangan dokter (診斷證明書), kuitansi biaya pengobatan (醫療費用), biaya transportasi berobat (就醫交通費) dan biaya perawatan (看護費用), pesan yang dipertukarkan dengan pusat kebugaran dan pelatih, keterangan saksi, catatan pemesanan dan kehadiran kelas, program latihan, serta catatan latihan. Bagian tubuh yang cedera dan keadaan lokasi kejadian sebaiknya juga difoto sejauh memungkinkan, dan apabila kronologi sebelum serta sesudah kejadian beserta isi komunikasi dirapikan menurut urutan tanggal, pencocokan data di kemudian hari menjadi lebih mudah.

Rekaman video dapat tertimpa setelah masa penyimpanannya lewat, atau menjadi tidak dapat digunakan karena sebab lain. Karena itu, dapat dipertimbangkan cara meminta pusat kebugaran menyimpan rekaman tersebut melalui surat tercatat berbukti isi (存證信函) atau surat pengacara (律師函) yang mencantumkan secara konkret rentang waktu, lokasi, dan posisi kamera yang diperlukan. Surat semacam itu merupakan langkah praktis untuk mencatat apa yang diminta dan kapan permintaan itu diajukan. Namun, surat itu sendiri tidak menciptakan kewajiban hukum baru bagi pihak lawan untuk menyimpan rekaman dan tidak pula mencegah penghapusannya; kenyataan bahwa rekaman tidak lagi tersisa juga tidak dengan sendirinya membuat pengadilan mengambil penilaian yang merugikan.

Apabila kronologi kejadian berpotensi memenuhi unsur suatu tindak pidana, laporan dapat segera diajukan agar aparat penyidik (偵查機關) menilai ada atau tidaknya dasar hukum untuk memperoleh atau mengamankan rekaman itu. Laporan tersebut tidak berarti kepolisian atau kejaksaan pasti akan memperoleh rekaman CCTV, sehingga data yang dapat disimpan sendiri oleh pihak yang bersangkutan, seperti data medis dan catatan komunikasi, tetap harus dikumpulkan bersamaan.

4. Pos ganti rugi apa saja yang dapat dituntut dari pusat kebugaran?

Pos kerugian yang dapat dipertimbangkan untuk dituntut adalah sebagai berikut. Diakui atau tidaknya serta besarnya jumlah yang sebenarnya bergantung pada kebutuhan setiap biaya, hubungan kausalnya dengan kecelakaan, bukti pendukung, proporsi tanggung jawab, dan penilaian pengadilan.

  1. Biaya pengobatan: Biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk pemeriksaan, penunjang diagnosis, terapi, obat-obatan, dan rehabilitasi dibuktikan dengan kuitansi dan rekam medis.
  2. Biaya perawatan atau pendampingan: Apakah perawatan memang dibutuhkan jika dilihat dari derajat cedera dan perjalanan pengobatan, serta apakah jangka waktu dan biayanya wajar, ditelaah melalui data medis dan data pengeluaran.
  3. Biaya transportasi: Biaya yang diperlukan untuk pergi dan pulang dari fasilitas kesehatan guna menjalani pengobatan dibuktikan dengan catatan perjalanan, kuitansi, dan sejenisnya.
  4. Kerugian akibat penurunan kemampuan bekerja (勞動能力減損): Apabila cacat sisa dan penurunan kemampuan bekerja yang berkelanjutan diakui, penilaian dapat dilakukan dengan mempertimbangkan secara menyeluruh data medis dan data pekerjaan, derajat kecacatan, jenis pekerjaan dan penghasilan, serta sisa masa kerja yang masih mungkin dijalani. Angka persentase kecacatan saja tidak menetapkan besarnya ganti rugi, dan kerugian juga tidak otomatis dihitung sampai saat pensiun.
  5. Kehilangan penghasilan selama masa pemulihan (收入損失): Jangka waktu ketika seseorang benar-benar tidak dapat bekerja karena pengobatan atau pemulihan, serta penghasilan yang berkurang karenanya, harus dibuktikan dengan data gaji, data perpajakan, catatan kehadiran kerja, dan sejenisnya.
  6. Ganti rugi immateriil (非財產上損害): Besarnya uang atas penderitaan batin ditetapkan pengadilan berdasarkan faktor pada tiap perkara, seperti derajat cedera, lamanya pengobatan, gejala sisa, dan keadaan konkret pihak yang bersangkutan.
  7. Ganti rugi punitif (懲罰性賠償金): Terdapat ketentuan bahwa dalam gugatan yang tunduk pada Undang-Undang Perlindungan Konsumen, apabila kerugian ditimbulkan karena kesengajaan pelaku usaha dapat dituntut paling banyak 5 kali lipat kerugian yang sebenarnya, apabila karena kelalaian berat paling banyak 3 kali lipat, dan apabila karena kelalaian paling banyak 1 kali lipat dari jumlah kerugian yang sebenarnya. Apakah Pasal 51 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Taiwan berlaku pada perkara yang bersangkutan, serta ada tidaknya dan besarnya ganti rugi yang benar-benar diberikan, bergantung pada penilaian pengadilan atas syarat dan bukti yang konkret.

5. Meskipun pusat kebugaran memiliki asuransi tanggung jawab (責任保險), apakah ada tidaknya ganti rugi dan jumlahnya masih dapat dipersengketakan?

Ya. Kenyataan bahwa asuransi tersedia dapat bermakna ketika sumber dana ganti rugi ditelaah, tetapi hal itu sendiri tidak mengakui tanggung jawab hukum pusat kebugaran atau pelatih dan tidak pula menetapkan jumlah yang harus dibayarkan. Sengketa antara penanggung (保險人) dan para pihak dapat timbul mengenai batas pertanggungan polis serta klausul pengecualian dan pembebasan tanggung jawab, hubungan kausal antara kecelakaan dan cedera, juga kebutuhan dan besaran setiap pos kerugian.

Khususnya penurunan kemampuan bekerja, berkurangnya penghasilan selama masa pemulihan, dan ganti rugi immateriil dapat memerlukan data medis, data penghasilan, dan data pekerjaan, atau pendapat ahli. Jumlah yang ditawarkan penanggung maupun jumlah yang dituntut pihak yang cedera tidak dengan sendirinya menjadi jumlah yang diakui pengadilan, dan hasil penilaian kecacatan pun tidak otomatis menentukan besarnya ganti rugi. Dalam penanganan yang sebenarnya, polis asuransi dan syarat-syaratnya, isi pemberitahuan kecelakaan, jawaban penanggung, perjalanan pengobatan, serta data kerugian harus diperiksa bersama-sama.

Apabila Anda mengalami cedera di pusat kebugaran, yang penting adalah lebih dahulu memperoleh perawatan medis yang diperlukan, mengamankan data yang masih dapat diperoleh sebelum data itu hilang, dan sedini mungkin memperoleh nasihat hukum secara individual mengenai batas waktu serta prosedur yang mungkin berlaku pada perkara tersebut. Perundingan, pengaduan konsumen (消費申訴) atau mediasi (調解), pengaduan pidana, dan gugatan ganti rugi perdata semuanya merupakan sarana yang dipilih menurut keadaan perkara, dan bukan prosedur yang selalu harus ditempuh seluruhnya.

Terjatuh di lantai tempat usaha, gangguan kesehatan akibat makanan, dan cedera yang timbul saat menggunakan jasa profesional pun dapat mempersoalkan kewajiban keamanan, hubungan kausal, kerugian, serta bukti. Namun, kesimpulan dalam perkara pusat kebugaran tidak dapat diterapkan begitu saja pada kecelakaan lain, sehingga kontrak, perbuatan, dan hukum terkait pada masing-masing peristiwa harus ditelaah secara terpisah.


Baca juga: