Apakah Anda pernah merasakan suasana salon pangkas rambut tradisional (理髮廳) Taiwan pada masa awal?
Cara mencuci rambut di salon pangkas rambut pada masa itu sangatlah khas.
Selain menyediakan jasa potong rambut, tersedia pula berbagai layanan lain seperti cukur jenggot dan perawatan wajah.
Yang tidak kalah penting, pelanggan dapat tetap duduk sambil dicuci rambutnya dan pada saat yang sama menerima pijat kulit kepala serta bahu dan leher.
Sekali potong rambut, pelanggan sudah dapat menikmati layanan istimewa seperti itu, sehingga nilai yang diperoleh dibandingkan harganya sangat baik.
Suasananya sangat mirip dengan jasa keramas ala Vietnam yang ada sekarang.
Salon pangkas rambut bergaya Taiwan seperti ini pun tetap tersimpan sebagai kenangan budaya yang khas bagi banyak orang Taiwan.
(Catatan: bagian ini merupakan kenangan pribadi, bukan keterangan hukum.)
Bagaimanapun juga, kalau berbicara tentang pijat—
Di Taiwan terdapat pula banyak ruas jalan yang dikenal sebagai kawasan pijat.
Berbagai macam tempat pijat berjajar di sepanjang jalan tersebut.
Ada pijat oleh penyandang disabilitas netra (視障按摩), pijat kaki, pijat minyak, pijat Thailand, dan berbagai jenis pijat lainnya.
Pada dasarnya setiap orang dapat memilih pijat yang sesuai dengan seleranya untuk melepaskan ketegangan.
Dan alasan mengapa pada hari ini terdapat begitu banyak tempat pijat boleh jadi berkaitan dengan satu permohonan penafsiran konstitusi (釋憲).
Pada tahun 1980, Taiwan menetapkan dan memberlakukan Undang-Undang Kesejahteraan Penyandang Disabilitas Taiwan (殘障福利法).
Pada waktu itu, sesungguhnya hanya penyandang disabilitas netra (視障者) yang boleh bekerja di bidang usaha pijat (按摩業).
Bagi orang yang bukan penyandang disabilitas netra (非視障者), bekerja di bidang usaha ini merupakan perbuatan yang melanggar hukum.
Ketentuan ini terus berlaku sampai 31 Oktober 2011; pada tahun 2003, dalam kurun tersebut, Tuan Lin mengelola sebuah salon pangkas rambut.
Ia mempekerjakan dua karyawan yang bukan penyandang disabilitas netra untuk memberikan jasa cuci rambut dan pijat, lalu ketahuan oleh polisi.
Menurut hukum yang berlaku pada waktu itu, Biro Urusan Sosial Kota Taipei (臺北市社會局) mengenakan denda administratif (罰鍰) sebesar 40.000 dolar baru Taiwan (新臺幣, TWD) kepada Tuan Lin, dan masing-masing 10.000 serta 20.000 dolar baru Taiwan kepada kedua karyawannya.
Tuan Lin menilai sanksi tersebut sangat tidak wajar, sehingga ia mengajukan permohonan penafsiran konstitusi.
Di Taiwan, penyandang disabilitas netra menghadapi banyak hambatan.
Hambatan itu meliputi tumbuh kembang, kegiatan sehari-hari, pembelajaran, dan pendidikan.
Karena hambatan itu, jenis pekerjaan yang dapat mereka jalani pun sangat terbatas.
Karena itu, pembentuk undang-undang pada masa tersebut berupaya melindungi penyandang disabilitas netra yang berada pada posisi lemah.
Mereka menyusun undang-undang yang melindungi kesempatan kerja dan hak atas penghidupan (生存權) bagi penyandang disabilitas netra.
Namun seiring perkembangan zaman dan meluasnya pasar konsumen, pandangan masyarakat berubah.
Lambat laun muncul pendapat bahwa melindungi hak penyandang disabilitas netra semata justru terlalu membatasi hak atas pekerjaan bagi orang yang bukan penyandang disabilitas netra.
Dalam perdebatan mengenai persoalan hak atas pekerjaan antara penyandang disabilitas netra dan orang yang bukan penyandang disabilitas netra ini, muncul banyak pendapat yang menentang.
Sebagai contoh, timbul pemikiran apakah ketentuan tertulis yang hanya memperbolehkan penyandang disabilitas netra bekerja di bidang usaha pijat bukan merupakan diskriminasi terhadap orang yang bukan penyandang disabilitas netra.
Dipertanyakan pula apakah ketentuan tersebut benar-benar berkontribusi pada perlindungan pekerjaan dan penghidupan penyandang disabilitas netra.
Pada akhirnya, dalam Penafsiran Yudisial Nomor 649 (釋字第649號) tanggal 31 Oktober 2008, para hakim konstitusi (大法官) menyatakan bahwa pasal undang-undang yang hanya memperbolehkan penyandang disabilitas netra bekerja di bidang usaha pijat bertentangan dengan konstitusi (違憲), dan pasal tersebut kehilangan daya berlaku pada 31 Oktober 2011, yaitu pada akhir masa tenggang tiga tahun yang diberikan oleh penafsiran itu.
Serupa dengan itu, di Korea Selatan banyak penyandang disabilitas netra menyambung hidup melalui pijat.
Pada umumnya hanya penyandang disabilitas netra yang telah memperoleh sertifikat keahlian yang boleh bekerja di bidang usaha pijat.
Memang pemerintah Korea Selatan pernah pula menerbitkan sertifikat keahlian pijat bagi orang yang bukan penyandang disabilitas netra.
Banyak penyandang disabilitas netra menggelar unjuk rasa keras karena khawatir kehilangan mata pencaharian.
Sampai saat ini di Korea Selatan tetap hanya penyandang disabilitas netra yang telah memperoleh kualifikasi yang boleh bekerja di bidang usaha pijat.
Apabila seseorang memungut biaya pijat dari orang lain tanpa memiliki kualifikasi tersebut, ia dapat dikenai pidana.
Berdasarkan Undang-Undang Layanan Medis Korea Selatan (醫療法), pidana itu berupa penjara paling lama 3 tahun.
Adapun orang yang bukan penyandang disabilitas netra yang menjalankan usaha pijat dapat dijatuhi pidana penjara paling lama 5 tahun.
Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa setiap negara menempuh cara yang berbeda-beda untuk melindungi hak dan kepentingan berbagai kelompok masyarakat.
Perlindungan hak dan kepentingan setiap kelompok terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Pembentuk undang-undang berupaya menemukan penyelesaian yang relatif seimbang untuk mengatasi benturan kepentingan.
Dewasa ini banyak orang memilih pijat untuk meredakan tekanan hidup.
Dalam proses itu, peristiwa pelecehan seksual (性騷擾) maupun perbuatan tidak senonoh (猥褻) terus saja terjadi.
Apa yang semula sekadar niat untuk melepas penat dengan berpijat tidak selalu berakhir dengan rasa lega.
Pijat itu justru dapat berakhir menjadi trauma seumur hidup karena mengalami pelecehan seksual.
Apabila Anda merasakan ketidaknyamanan atau hal yang janggal selama proses pijat di Taiwan,
Anda harus segera menyampaikannya atau meminta agar pijat dihentikan demi melindungi diri sendiri.
Apabila Anda merasa telah mengalami pelecehan seksual,
Anda harus pergi ke kantor polisi bersama teman yang Anda percayai atau bersama advokat di Taiwan (律師) untuk membuat laporan polisi.
Artikel ini memberikan informasi umum dan bukan nasihat hukum untuk kasus tertentu.



